
"Semester 2 masih ada harapan. Tapi harapan itu tinggal sedikit lagi waktunya. Tapi kami masih harapkan ada yang positif dan bisa kami harapkan walau sudah tergerus lima persen lebih. Jadi tahun ini kami harapkan tidak minus, tapi kecil hanya 3 sampai 3,5 persen," ujarnya di Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (9/6).
Roy menuturkan pada semester I 2020 ini, pertumbuhan ritel modern telah tergerus hingga 60 persen. Kondisi tersebut terjadi akibat rendahnya daya beli masyarakat yang disebabkan penyebaran wabah virus corona.
Menurutnya, sekitar 40 ribu gerai anggota Aprindo sempat offline karena masalah tersebut. Secara otomatis penjualan dan omset juga menurun. Ia berharap pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah di sejumlah daerah bisa membuat orang kembali berbelanja ke ritel modern sehingga pertumbuhan penjualan tidak negatif.
Apalagi daerah-daerah sekitar Jakarta sudah melakukan pelonggaran PSBB dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
"Kami harap ini bisa jadi contoh di berbagai daerah dan berikutnya yang kami tahu sudah mulai longgar adalah Jawa Timur, yang konsumennya juga cukup tinggi. Jadi dengan kata lain pelonggaran ini kami berupaya menjaga protokol tetap kesehatan dan Ritel dapat kembali berproduksi," tuturnya.
Roy juga memastikan peritel yang tergabung dalam Aprindo telah menyiapkan berbagai strategi untuk menggenjot penjualan di sisa tahun 2020 ini. "Kami menyiapkan berbagai macam program mulai dari diskon dan kemudahan berbelanja seperti delivery dan pemesanan lewat aplikasi," pungkasnya.
(hrf/agt)
https://ift.tt/2AiyvxK
June 10, 2020 at 08:13AM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Pengusaha Proyeksi Pertumbuhan Ritel Cuma 3 Persen Tahun Ini"
Posting Komentar